Postingan

Puisi Harian "Sajak Tangguh"

                                                                                       Sajak Tangguh Sorot sang fajar menyambut dengan tugasnya Semilir angin menyisip sela jendela Para manusia dibangunkan dengan tekadnya Terkadang ribuan jiwa tercekik rasa takut Rasa takut akan sebuah kegagalan Perasaan ragu untuk mencoba Firasat kotor untuk melangkah Meskipun begitu raga tetap harus bangkit Melanjutkan rentetan perjalanan hidup Menyingkirkan sebuah kata pasrah Karena menyerah bukanlah pilihan tepat Dan lelah bukanlah alasan Setiap orang memegang kekuatan berbeda Dengan itu tetaplah menyala sebelum padam Banyak target yang meski kita gapai Banyak beban yang meski kita pikul Semangatlah dan jangan takut melangkah Karena sesungguhnya...

Puisi harian "Sejarahku Indonesiaku"

    Sejarahku Indonesiaku Fina N F Sejauh mata menatap Jiwa raga ini melangkah Teringat segala jerih payah para tokoh negeri Perjuangkan nama Indonesia Demi sebuah puncak kemerdekaan Kepingan-kepingan kenangan yang terpatri Kan menjadi sebuah memori berharga Bagi   kita para penerus jejaknya Dan untuk negeriku Ribuan tahun pernah terjajah Tanah makmur menjadi incaran negara penjahat Rakyat diperas, dipaksa, diinjak Tersiksa tanpa rasa belas kasih Sampai tangisan anak kecil sudah menjadi biasa Kelaparan, kemiskinan, kemlaratan Terjadi sangat tragis Buruh-buruh menderita bagaikan manusia tanpa derajat Tubuhnya yang hanya diselimuti kulit Terlihat sangat menaskan Tetapi berkat jasa pahlawan Kita mampu menyambut negeri sampai hari ini..

Puisi harian "Dibalik Hari Ini"

  Dibalik Hari Ini Fina N F Ributnya hiruk priuk ibu kota Sumbangan para makhluk fana dan rentetan buatannya Seolah sadar tak sadar disandingnya Bila ingin menyapa senja saat nanti tersenyum Kaki bahu dipaksakan sekuat baja Anak jalanan yang tak kuasa menahan hausnya Seolah menjadi sorotan para raga yang sadar Mata dan hati mereka tersirat rasa iba Tetapi apalah daya Kondisi telah merajalela direntetan trotoar Menghiasi deretan sela-sela jalanan kota Seakan-akan telah dipermanenkan Bagaimana dengan para manusia dengan sejuta hartanya Apakah mereka memikirkannya? Ataukah sekarang bersembunyi dibalik selimut bantalnya Meski dalam kondisi ibu pertiwi saat ini Yang tak khawatir menyambung usia anak cucu Tetapi semua tak bisa dipukul rata sama Banyak manusia dengan mental emasnya Mendantikan bumi ini bersinar kembali